Pemikiran Ki Hajar Yang Terlupakan





Assalamualaikum boy !!! Berhubung sekarang tanggal 2 Mei gue mau merayakan hari pendidikan nasional dengan menulis nih boy.

Semua kalau ditanya siapa bapak pendidikan nasional pasti serempak menjawab Ki Hajar Dewantara. Slogan Tut Wuri Handayani yang melekat sebagai lambang pendidikan Indonesia membuat dirinya tak terlupakan. Setiap setahun sekali diadakan upacara dengan amanat tentang dirinya. Namun apakah pemikiran beliau sudah sesuai dengan pendidikan Indonesia ?
Image result for ki hajar dewantara
Sumber : ubaidillahalhakami.blogspot.com

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat begitulah nama lengkap dari pria yang lahir di Pakualaman pada 2 Mei 1889 ini merupakan aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda
Pendiri perguruan Taman Siswa ini memiliki pemikiran bahwa pendidikan memerdekakan, dalam gagasan Ki Hadjar, sangat erat dengan pemahaman bahwa anak membawa kodratnya masing-masing. Tugas pendidik pada hakikatnya sama dengan petani. Petani menanam padi, ia hanya dapat menuntun tumbuhnya padi. Ia dapat memperbaiki tanah, memelihara tanaman, memberi rabuk dan air, memusnahkan hama-penyakit. Tapi, seorang petani tak dapat menjadikan padi tumbuh menjadi jagung. Demikian pula seorang anak.
Image result for tut wuri
Sumber : sahabatdalambelajar.wordpress.com

Pemikiran ini tentu berbeda dengan realita yang terjadi bukan ? Mayoritas guru sekarang lebih banyak berbicara bagaimana mengajar yang baik dengan ukuran pencapaian target kurikulum. Jarang guru mempertanyakan mengapa dan apa manfaat suatu pelajaran diberikan ke murid. Guru zaman now merasa aman menempatkan dirinya sebagai operator. Hasilnya adalah proses pembelajaran yang terjebak pada pedagogik dogmatis, mencontoh yang terbaik, tetapi tak tahu apa falsafahnya.
Miris itulah realita yang terjadi. Padahal semboyan Tut Wuri Handayani menurut Ki Hadjar bahwa guru jangan hanya memberi pengetahuan yang perlu dan baik saja tetapi juga mendidik murid agar dapat mencari sendiri pengetahuan.

Guru mengibaratkan dirinya sebagai yang maha tahu. Dan murid hanya sebagai gelas kosong yang diisi air dari teko. Segala perintah dan pengajaran harus sesuai sehingga tak ada ruang diskusi. 

Bahkan pendidikan yang mengharuskan seluruh siswa menguasai pelajaran yang ada merupakan hal yang dikritik Ki Hajar. Menurut Ki Hajar bahwa padi tidak akan pernah bisa menjadi jagung. So, apakah realita pendidikan kita seperti itu. Dengan memaklumi dan mengembangkan potensi yang ada. Bukan dengan sistem yang mesti sama rata. Sehingga mereka yang memiliki nilai bagus menjadi terpelajar ? 

Sekian dari gue Thanks Boy !!!


Komentar

Posting Komentar